Untuk menjadikan anak cerdas, kreatif, dan berkarakter, memang harus distimulasi sejak dini. Salah satu upaya untuk mencapai itu adalah memberikan mereka pelajaran seni.
Sabtu, tepatnya 1 Juli tahun lalu, bisa jadi menjadi hari spesial untuk Meuwa, 9. Siswa SD yang mewakili Sulawesi Selatan ini berhasil meraih uang jutaan rupiah, piala dan piagam penghargaan. Apalagi yang memberikannya tidak tanggung-tanggung, orang nomor satu di negeri ini yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) langsung.
SBY tentu tak sembarangan memberi penghargaan. Meuwa menerima semua itu berkat kerja keras dan disiplin penuh kreativitas mencipta lagu berjudul Ku Ingin jadi Guru. Dia pun memboyong juara III Lomba Cipta Lagu Anak yang merupakan bagian dari acara besar Lomba Cipta Seni Pelajar 2009 dengan tema “Ceria Anak Indonesia” yang digagas pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar).
Bocah lugu itu boleh bangga. Sebab, pesertanya tak sembarangan. Jumlah keseluruhan peserta mencapai 198 orang. Semuanya merupakan hasil seleksi dan merupakan wakil di tingkat provinsi. Mereka terdiri atas 99 anak SD dan Madrasah Ibtidayah serta 99 siswa SMP dan Madrasah Tsanawiyah. Sebanyak 33 provinsi masing-masing diwakili oleh tiga peserta untuk lomba lukis, puisi, dan cipta lagu.
Meuwa yang cerdas dan kreatif tersebut bukan lahir begitu saja dengan segudang talenta tersebut. Orang tuanya pasti memberikan stimulasi dan dorongan agar menekuni seni sejak kecil, bahkan mungkin sejak dalam kandungan. Diketahui, usia dini anak merupakan periode emas untuk melakukan proses stimulasi aktif sebagai bekal perkembangan serta pertumbuhannya kelak saat dewasa. Pada usia dini, anak sudah mampu menerima keterampilan dan pengajaran sebagai dasar pengetahuan dan proses berpikir melalui otak.
Otak manusia sendiri dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan dengan fungsi yang berbeda. Otak kiri biasa diidentikkan dengan rapi, perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan, logika, terstruktur, analitis, matematis, sistematis, linear dan tahap demi tahap, sedangkan, otak kanan diidentikkan dengan kreativitas, persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna, berpikir lateral, tidak terstruktur, dan cenderung tidak memikirkan hal-hal yang terlalu mendetail. Untuk mencapai anak yang cerdas, kedua otak ini musti distimulasi secara bersamaan.
“Ini disebut konsep multiple intelligences di mana kecerdasan anak tidak hanya dilihat dari segi akademis tetapi juga menyediakan kesempatan pada anak untuk mengembangkan bakat emasnya sesuai dengan kebutuhan dan minatnya,” terang psikolog anak, Fabiola Priscilla Setiawan Mpsi.
Untuk merangsang perkembangan belahan otak bagian kanan anak, pendidikan seni berperan penting untuk itu. Pelajaran seni terbukti dapat meningkatkan kepandaian berekspresi anak, pemahaman sisi-sisi kemanusiaan, kepekaan dan konsentrasi yang tinggi, serta kreativitas yang gemilang.
Dengan begitu, diharapkan anak yang diberikan kebebasan untuk mengembangkan bakat seninya seperti melukis, menulis puisi, bernyanyi atau bermain alat musik, akan mudah menapaki tangga menuju puncak prestasi. Orang tua tentu bangga dengan pencapaian buah hatinya tersebut.
Fabiola mencontohkan, pada saat anak melukis, biasanya pikirannya akan mengingat benda atau seseorang yang pernah dilihatnya. Dengan begitu, daya ingatnya akan terus terasah. Melukis juga mengembangkan kreativitas anak karena membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada.
“Banyak gagasan lama menjadi baru saat anak menggambar. Misalnya saat melukis gunung, dia akan menambah gambar burung atau sawah. Padahal, dari pemandangan gunung yang dia lihat sendiri tidak ada burung. Ini menunjukkan tingkat kreativitas anak mulai tumbuh,” terangnya.
Melukis, lanjut Fabiola, juga dapat menambah perbendaharaan bahasa dan kosakata anak. Caranya, biarkan dia menceritakan gambar apa saja yang baru dia buat. Tidak hanya menjelaskan gambar, minta dia membuat kisah dibaliknya. Daya khayal dan imajinasi anak juga mulai dikembangkan pada saat itu.
Sementara dari sisi emosi, kata dia, pendidikan seni dapat berfungsi sebagai alat untuk mengasah kepekaan dan rasa kepedulian sosial anak. Dengan membuat puisi misalnya, anak akan berusaha mengeluarkan pendapat dan perasaan yang terpendam di lubuk hatinya ketika melihat kondisi lingkungan terdekatnya.
“Anak akan lebih peka dan perhatian dengan apa-apa saja kejadian yang terjadi pada dirinya dan sekelilingnya. Rasa empati terhadap penderitaan dan kesusahan orang lain juga ikut terlatih,” imbuh staf pengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Atmajaya itu.
Pengembangan seni pada anak juga dapat dijadikan sarana mengeluarkan emosi secara sehat tanpa menyakiti atau mengganggu orang lain.
“Dia bisa nyanyi dengan teriak-teriak, mencoret-coret buku gambar, atau menari sesuka hati saat marah. Emosinya jadi diluapkan dengan berkesenian,” tukas Fabiola.
Fungsi seni juga dapat meningkatkan kepercayaan diri. Fabiola yang berpraktik di Pela 9 dan LPT (Lembaga Psikologi Terapan) Universitas Indonesia ini menuturkan, saat anak tampil di atas panggung atau di depan teman-temannya untuk mempertunjukkan bakatnya, dia merasa kelebihannya itu bisa membuat dirinya bangga. Menari dan musik juga dapat mengasah gerakan motorik kasarnya karena selalu bergerak.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar