Sebenarnya, perkembangan emosi yang sering terjadi pada masa awal kanak-kanak dengan rentang waktu mulai usia tiga sampai enam tahun, antara lain munculnya amarah, perasaan takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih, dan kasih sayang.
Jika anak kurang memahami bagaimana cara tepat dalam menyikapi dan mengungkapkan perasaan cemburu, bukan tidak mungkin si kecil ngamuk ketika dia gagal berkompetisi.
"Ia perlu meningkatkan pemahaman terhadap kemampuan diri, bahwa ia mungkin dapat lebih berhasil di bidang-bidang yang lain, sehingga pemahaman terhadap kemampuan diri tidak hanya dinilai dari satu aspek saja. Misalnya, dari kecepatannya dalam menyelesaikan soal hitungan. Mungkin si kecil kurang cepat dalam berhitung, tapi ia lebih cepat dalam berenang, berlari, atau menghafalkan lirik lagu," saran Fabiola.
Dan Tipsnya adalah:
1. Menerapkan pola pengasuhan yang otoritatif (authoritative parenting). Orangtua perlu menetapkan batas-batas dan pengendalian tindakan-tindakan mereka (bebas tapi bertanggung-jawab). Terapkan batasan dan aturan secara tegas dan konsisten setelah batasan dan aturan tersebut dibicarakan bersama. Berikan pujian atau penghargaan jika anak berhasil menunjukkan perilaku yang diharapkan.
2. Orangtua dapat memperluas wawasan anak dalam menyikapi beragam persoalan sehari-hari yang dihadapinya. Dalam hal ini menyikapi situasi didahului teman. Ajarkan cara-cara tepat untuk menghadapinya. Selain membicarakan bersama-sama dalam situasi yang menyenangkan, orangtua juga dapat melakukan role play atau bermain pura-pura untuk membantu anak menghadapi situasi serupa. Misalnya, anak menjadi teman yang mendahului, dan sebaliknya Moms berpura-pura menjadi anak, tunjukkan cara-cara tepat untuk menghadapinya.
3. Ajarkan juga beragam cara tepat untuk mengungkapkan emosi marah atau cemburu. Jelaskan dampak negatif dari perilaku menangis berguling-guling di lantai dan dampak positif, apabila ia mengungkapkannya dengan cara yang dapat diterima lingkungan, seperti menggambarkan kekesalan hatinya atau menceritakannya kepada orang terdekat.
4. Tingkatkan rasa percaya diri anak terhadap berbagai kemampuan yang dimilikinya. Perluas pemahaman terhadap diri, bahwa setiap anak memiliki kelebihan masing-masing. Dukung anak untuk memperluas minat dan menekuni bakatnya. Hal ini diharapkan dapat membuatnya tidak berkecil hati ketika ia kurang menonjol di satu bidang karena ia telah memahami bahwa dirinya dapat meraih prestasi lebih baik di berbagai bidang yang lain. Namun tetaplah dukung anak untuk berusaha yang terbaik disetiap kegiatan yang diikutinya.
5. Orangtua dapat meningkatkan pengalaman anak dalam menghadapi situasi persaingan atau kompetisi. Namun sebelumnya, orangtua diharapkan dapat mempersiapkan anak dalam menghadapi kemungkinan kemenangan atau kekalahan yang terjadi. Berikan penjelasan bahwa kalah bukanlah salah. Kita dapat belajar dari kekalahan kita dan berusaha agar lebih baik di kesempatan berikutnya. Tentunya hal ini bisa disampaikan dalam bahasa anak melalui kisah-kisah dongeng.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar